Monday, June 18, 2007

Gak Dapat Dapat

Pas di Jatinangor, mampir di kosan Oca, tidak ada niat sama sekali buat bertemu Andreas Harsono. Kemudian Mimit datang dari kamar sebelah dan mengatakan, "Ketemu Andreas aja, orangnya baek kok." Saya lantas berpikir, bukankah sebuah perjudian apabila kita bertemu dengan seseorang yang boleh dibilang pioner pada bidangnya--saya mengangap Andreas Harsono dkk adalah pionir dalam Jurnalisme Sastrawi di Indonesia karena mereka berhasil dengan Pantau-nya--sementara saya belum punya pengetahuan dalam bidang tersebut.

Mumpung ke Jakarta, siapa tahu sekali berlayar dua tiga pulau terlampaui.

Saya menjawab, "Ya udah, ntar dicoba."

Di Percetakan Negara, habis Magrib saya menghubungi Mas Andreas. Ia menjawab, "Sekarang saya sedang dikerumuni massa, bagaimana kalau sebentar lagi saya hubungi pake friend." Bugaslah, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Saya duduk, sambil baca-baca novel The Stranger Albert Camus di teras rumah. Tanpa sengaja pikiran saya melayang lagi ke Jatinangor. Maksud hati menelepon si dia--seorang cewek maksud saya--, tapi andai mas Andreas tiba-tiba menelepon saya, bisa fatal juga. Saya urungkan niat, mendingan di-sms. Sewaktu memencet awal nama si dia ini, Edo sms pula. Isinya menyarankan saya untuk sms si dia.

Apa ini?

Tanpa berpikir panjang lebar, akhirnya melayanglah sebuah sms yang isinya kurang lebih menanyakan posisi dan kabarnya, tanpa mengemis dan tanpa minta balsan; tapi di dalam hati berdoa, semoga dibalas. Ditunggu-tunggu, tak dibalas juga. Saya tak mau berprasangka. Kemudian saya pergi ke warkop buat beli rokok dan secangkir teh hangat.

Duduk kembali di teras dengan perasaan ringan, sambil memandang jalan di gang yang mulai terlihat sempit dan gelap pada malam hari, handphone saya dihubungi 0888.... Saya angkat dan Mas Andreas menanyakan maksud saya. Setalah saya jelaskan, ia mengatakan, "Anda tau Senayan." Tau, jawab saya. "Apartemen saya tidak jauh dari sana, Permata Hijau namanya.... Mulai jam tiga saya sudah ada di sana."

Semuanya gara-gara saya tidak punya persiapan dan pikiran terbagi pula ke sia dia itu. Maka Ke Cileduglah akhirnya saya sehabis bangun tidur, dengan maksud minta duit karena duit habis lagi.

Jadi antara sebagai calon Jurnalis dan perjuangan mengejar cewek. Maksud hati, siapa tahu tugas Jurnalistik ini berhasil, yang di Jatingangor itu bagus juga hasilnya. Tapi bukan itu yang saya dapat. Ketika tiba di Ciledug, tempat om kecil, sepupu saya langsung curhat ke saya.

Sambil memegang minicompo, sambil mendengar Bukan Permainan Gita Gutawa dia. Baru kelas VI SD!

"Aku kalau beli dvd mendingan yang bajakan aja, tapi kalau buat Gita Gutawa aku gak, masalahnya sayang."

Kemudian ia pergi ke ruang tengah buat ngambil kaset. "Teks-nya udah ilang."

Saya tanya, apakah dia tahu Gita Gutawa kelas berapa.

"SPM!"

Kemudian berturut-turut ia menyebutkan nama SMP-nya, kesukaan-kesukaan Gita apa, dan lain sebagainya.

Saya duduk, membakar sebatang rokok. Dalam hati saya berkata, "Kok bisa sama."

Kemudian ia mengatakan kepada saya, bahwa ia ada juga lagu Sherina yang Aku di Sini, "Tapi aku gak terlalu suka," katanya. Tanpa saya iyakan, berlari-lari kecil ia mengambilnya dan bersedih-sedih pula Sherina di speaker minicompo itu.

Tapi sebentar lagi saya musti ke Senayan buat ngobrol dengan Andreas Harsono dan sejenak tinggalkan dulu yang begini-begian.